Tampilkan postingan dengan label Keislaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keislaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2026

Utusan ICMI Kabupaten Tangerang Ikuti Ramadhan Leadership Camp 2026


KOTA SERANG,ICMINEWS
- Majelis Pengurus Daerah (MPD) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Kabupaten Tangerang mengirim peserta dalam kegiatan Ramadhan Leadership Camp 2026 yang diselenggarakan ICMI Orwil Banten bertempat di Poltekkes Banten pada Rabu, (11/3/2026). Kegiatan tersebut sebagai bentuk peningkatan kapasitas pengurus ICMI dalam bidang kepemimpinan. Ketua Panitia RLC 2026, H. Asep Mulya Hidayat mengatakan kegiatan tersebut menjadi agenda rutin setiap Ramadhan dan pada tahun 2026 ini kegiatan RLC menghadirkan narasumber yang memiliki kiprah praktis di masing-masing bidang, diantaranya Arif Wismansyah (mantan Walikota Tangerang/Pengusaha), Dahrizal, S. Kp, MPH (direktur Poltekkes Banten), Adi Dharma (Ketua OJK Banten) dan lain-lain.

Jumat, 07 Maret 2025

SAFARI RAMADHAN ICMI KE PONDOK PESANTREN ATTADZKIR PASAR KEMIS

ICMINEWS-Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Kabupaten Tangerang melakukan kegiatan Safari Ramadhan 1446 H ke Pondok Pesantren Attadzkir, Kecamatan Pasar Kemis pada Jumat, (07/03/2025). Kegiatan Safari Ramadhan sebagai momentum silaturahmi ICMI Kabupaten Tangerang bersama masyarakat dan para santri. Kegiatan tersebut diisi dengan aktivitas Halaqoh Ramadhan yang diikuti para santri Pondok Pesantren Attadzkir beserta para Ustadz dan ustadzah yang mengajar di pondok tersebut.

Sabtu, 03 Agustus 2024

Pelajar 19 Tahun di Jawa Timur Terduga Teroris, Ini Kata Cendekiawan Muda Banten

BANTEN-Terjadi sebuah penangkapan terduga teroris di Kota Batu, Jawa Timur pada 31 Juli 2024 Pukul 19.15 WIB. Penangkapan dilakukan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Terduga teroris adalah seorang pelajar berusia 19 tahun berinisial HOK. Menurut keterangan penyelidikan polisi, HOK diduga sebagai simpatisan organisasi ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). HOK hendak berencana melakukan bom bunuh diri. “Densus 88 masih menyelidiki  kemungkinan keterkaitan dengan jaringan pendukung ISIS lainnya,” kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Kombes Aswin Siregar.

Kamis, 02 Februari 2023

ICMI Kronjo Dukung Ketua MUI Terpilih

KRONJO, ICMINEWS-Musyawarah Kecamatan (Muscam) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kronjo menetapkan KH. Syaebi Hamdi terpilih secara aklamasi setelah seluruh komponen ulama peserta Muscam memilihnya secara tunggal. KH. Syaebi memimpin MUI Kecamatan Kronjo untuk masa bhakti 2022-2027. Kepemimpinan KH. Syaebi Hamdi dinilai berhasil menggerakkan kegiatan MUI di Kecamatan Kronjo oleh para ulama dan asatidz se-Kecamatan Kronjo.

Kamis, 15 Oktober 2020

Dari Webinar HUT Kabupaten Tangerang, ICMI Banten Apresiasi Pembangunan di Tangerang

TANGERANG-Kabupaten Tangerang memasuki usia 388 tahun tepat di tanggal 13 Oktober tahun 2020. Pelaksanaan pembangunan di kota seribu industri ini mendapat apresiasi dari Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Banten.

Rabu, 14 Oktober 2020

Pancasila dan Agama-agama

 Oleh: Shamsi Ali


Jakarta (ICMI Media) Saat ini salah satu hal yang menjadi perbincangan hangat adalah Pancasila dan agama-agama di Indonesia, khususnya berkaitan dengan sila pertama dan konsep keesaan Tuhan di masing-masing agama. Pemicunya adalah tanggapan Eggy Sujana dalam sebuah sidang tentang RUU Ormas yang memang menjadi polemik panas di kalangan para aktifis.
Eggy Sujana dalam tanggapannya terhadap argumentasi pemerintah yang akan melarang ormas yang bertentangan dengan Pancasila menyatakan bahwa jika ormas dilarang karena bertentangan dengan pancasila lalu bagaimana dengan organisasi-organisasi keagamaan selain Islam yang menurutnya tidak sejalan atau tepatnya bertentangan dengan sila pertama Pancasila? Apakah pemerintah akan membubarkan oeganisasi-organisasi agama yang memiliki konsep ketuhanan yang “dianggap” bertentangan dengan sila Ketuhanan yang maha esa? 
Perbincangan ini kemudian menjadi semakin hangat di kalangan internal umat Islam ketika Imam Besar masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, menyampaikan opini bahwa konsep trinitas Kristen itu dapat dijelaskan dari pandangab tauhid Islam. Intinya kira-kira bahwa konsep ketuhanan umat lain itu sesungguhnya sejalan dengan konsep ketuhanan Islam.
Polemik semakin menjadi-jadi dengan opini ini. Apalagi dalam posisi beliau sebagai Imam Besar masjid Istiqlal dan juga rektor Lembaga Ilmu Al-Quran Jakarta. Pandangan demi pandangan berseliweran di mana-mana. Ada yang dewasa, ada yang kekanak-kanakan, ada yang rasional, dan banyak pula yang emosional. Bahkan orang yang belum tentu pernah membaca buku-buku referensi Islam dengan pongah mengatakan jika Imam Nazaruddin Umar ini kurang referensi.
Dua titik permasalahan
Saya melihat bahwa masing-masing cenderung memahami pancasila berdasarkan penafsiran golongan (agama) masing-masing. Saya melihatnya bahwa memang disitulah arah pemikiran para pencetusnya, yang memang mayoritasnya adalah para kyai dan ulama. Bersama-sama dengan Bung Karno mereka merumuskan pancasila ini untuk dipahami atau ditatsirkan berdasarkan arah keyakinan agama masing-masing. 
Hal ini menjadi penting sebab sejak awal pencetusannya bangsa Indonesia sudah hidup dalam keragaman yang luar biasa. Baik secara agama, budaya maupun ras dan etnis. Bahkan di luar agama-agama formal yang diakui oleh negara ada keyakinan-keyakinan yang banyak, dengan konsep teologis masing-masing.

Dan karenanya memang kurang tepat untuk menyalahkan kelompok agama tertentu, atau tepatnya menuduhnya bertentangan dengan pancasila dengan memakai kacamata “penafsiran agama kita”. Dalam pandangan Islam, sekali lagi dalam pandangan Islam, konsep ketuhanan Kristiani dengan trinitas tidak sejalan dengan konsep keesaan Tuhan (tauhid) dalam Islam. Sehingga sudah pasti dalam pendangan umat Islam, hal itu tidak sesuai dengan sila pertama pancasila. Tapi sekali lagi itu dalam pandangan Islam.

Masalahnya apakah kita umat Islam punya otoritas tunggal dalam menafairkan arti ketuhanan yang maha esa berdasarkan tauhid yang kita yakini? Atau biarkanlah kelompok-kelompok lain menafsirkannya sesuai dengan pemahaman agama yang mereka yakini? 

Hal lain yang juga menjadi masalah adalah bahwa dalam memahami konsep keesaan Tuhan Islam mengajarkannya dalam tiga aspek. Pertama adalah aspek ketuhanan itu sendiri yang lebih dikenal dengan “tauhid rububiyah”. Kedua adalah aspek sifat atau karakter Tuhan yang dikenal dengan “tauhid asma was-sifat”. Dan ketiga adalah aspek penyembahan atau ibadah yang lazim dikenal dengan “tauhid ubudiyah atau uluhiyah”. 

Yang pasti adalah bahwa Islam memang mengakui berdasarkan sejarah keyakinan orang-orang musyrik bahwa semua manusia itu, apapun bentuk penyembahannya ternyata yakin kepada Tuhan yang satu. “Wa lain sa-altahum man khalaqassamaqati wal-ardh..layaqukunna Allah”. Bahwa orang-orang Musyrik Arab yang ketika menyembah ratusan patung-patung sekalipun yakin bahwa secara rububiyah hanya ada satu Tuhan.

Permasalahannya kemudian adalah, dan ini inti kesalahan dalam pandangan Islam, kalaupun mereka yakin bahwa ada satu Tuhan tapi mereka masih juga mengaitkan beberapa sifat makhluk kepada Tuhan. Dan yang paling parah mereka mengambil perantara-perantara-perantara antara diri mereka dan Tuhan yang (semestinya) tunggal dalam penyembahan.

Maka sebagai bangsa dengan pancasila sebagai asas dalam bernegara, harusnya konsensus itu adalah konsensus kebangsaan. Bukan konsensus keagamaan. Sebab sampai kapan pun agama-agama tidak akan pernah disatukan dalam konsensus kemanusiaan. Akan ada perbedaan-perbedaan, bahkan dalam prinsip sekalipun. Tapi apakah dengan itu anak-anak bangsa ini akan saling “meniadakan” (menihilkan)? 

Di sinilah kemudian dalam pandangan saya pentingnya mendudukan masalah pada tempatnya. Sebagai orang Islam dengan segala perbedaan dengan teman-teman sebangsa dari agama dan keyakinan lain, saya tidak perlu menuduhnya bertentangan dengan pancasila. Toh mereka bisa memahami arti ketuhanan yang maha esa itu berdasarkan agama dan keyakinan mereka. Tapi di sisi lain maafkan kalau dalam pandangan kami umat Islam konsep keyakinan anda itu berdasarkan “penafsiran ketuhanan agama” kami tidak sesuai. Tapi itu kan dari sudut pandang agama kami.

Akhirnya dengan segala hormat saya kepada guru saya, orang yang saya sangat hormati karena ilmu dan akhlaqnya, saya menyatakan tidak setuju dengan penafsiran beliau tentang trinitas itu. Saya berani mengatakan demikian karena saya sudah terlalu sering berdialog langsung dengan teman-teman kristiani. Dan hingga detik ini pun penafsiran seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. Naazaruddin Umar itu hanya penafsiran pinggiran. Justeru mainstream Kristiani memang mengakui adanya tiga tuhan yang masing-masing pada dirinya adalah berdiri sendiri dan sempurna. Namun demikian mereka tetap mengaku jika mereka percaya kepada keesaan tuhan atau monoteisme.

Dan karenanya sikap yang terbaik sekaligus adil dan bijaksana adalah serahkanlah kepada masing-masing pemeluk agama itu untuk menafsirkan pancasila sesuai dengan pemahaman agama dan keyakinan masing-masing. Bahkan pemerintah sesungguhnya tidak punya otoritas untuk menafsirkan pancasila berdasarkan pemahaman atau penafsirannya sendiri.

Dan ini juga bagi saya yang harusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentapkan sebuah UU atau aturan tentang ormas di negara ini. Selama ormas itu mengakui Pancasila sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara, terlepas dari pemahaman dan penafsirannya, seharusnya dibiarkan bahkan didukung. Sebab ketika pemerintah cenderung memaksakan penafsirannya maka rentang akan terbentuk “kediktatoran” dalam bernegara.

Akhirnya mari kita membangun wawasan dan karakter dalam berbangsa yang lebih dewasa, luas dan bijaksana. Bahwa keragaman adalah “berkah” dan karenanya harus dirangkul dan dihormati. Tapi semua kita harus memberikan jaminan bahwa keragaman itu juga jangan sampai dibalik menjadi senjata untuk memporak porandakan Negara Kesatuan Republik Indonesia kita tercinta. Insya Allah Amin! (SYH/CR)

Kamis, 13 April 2017

MAKSIS SAKHABI: PERSATUAN ADALAH SEGALANYA DEMI NKRI

ICMINEWS, TANGERANG - Berbicara persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan pada afiliasi pilihan politik. Betapa tidak, satu golongan tertentu bisa terpecah menjadi berkeping-keping lantaran beda pilihan politik. Pengalaman ini bisa dilihat dari perhelatan Pilkada di DKI Jakarta, dimana setiap orang senantiasa bicara agama, suku, ras dan politik di setiap perbincangannya. Hal itu bisa berdampak pada konflik horizontal di tengah masyarakat yang majemuk ini. Pendapat ini dikemukakan Ketua ICMI Orda Kabupaten Tangerang, Maksis Sakhabi pada acara diskusi bulanan bertajuk Menjaga NKRI Merawat Islam Indonesia.

Maksis Sakhabi menekankan betapa pentingnya nilai persatuan dalam setiap kehidupan manusia. Menurutnya, tidak akan pernah terdapat sebuah negara atau bahkan kampung kecil tanpa ada persatuan. "Nilai persatuan itu sifatnya fundamental. Ia mampu menghilangkan ego kesukuan, ras dan golongan, penting sekali sebagai masyarakat majemuk kita memahami dan mengamalkan nilai persatuan,"Terang Maksis.

Menurutnya, nilai persatuan bangsa Indonesia saat ini tengah dalam kondisi yang mengancam. Hal ini dikarenakan suhu politik di DKI Jakarta yang dapat menyebar ke seantero negeri. "Tak hanya itu, DKI ini bisa membangunkan orang tidur menjadi garang seperti harimau karena urusan Pilkada," paparnya.

Maksis berharap bahwa setiap orang hendaknya memahami nilai persatuan sebagai rasa yang membangkitkan semangat ke-Indonesia-an. Lebih jauh dirinya memaparkan, bahwa nilai persatuan terdapat dalam kitab suci. "persatuan ini termaktub dalam kitab suci agama di Indonesia, mulai dari ummat Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, apalagi Islam, semua menyeru persatuan,"Tegas Maksis. /pik

Kamis, 10 November 2016

ULAMA BANTEN DIUNDANG KE ISTANA, KETUA ICMI: INI SINYAL BAGUS

ICMINEWS-Jakarta- Presiden Joko Widodo akhirnya mengundang sejumlah kalangan ulama dan tokoh masyarakat dan mengajaknya berdialog menyikapi perkembangan pasca Aksi Bela Islam yang dilakukan berbagai kalangan organisasi massa dan masyarakat pada Jumat, 4 November lalu. Pertemuan yang digelar pihak istana ini berlangsung pada Kamis, 10 November 2016.

Beberapa ulama asal Banten yang mendapat undangan antara lain, KH. Abuya Murtadho, KH. Encep Subandi, KH. Kholil dan beberapa santri dari Banten. Pertemuan itu membahas beberapa hal yang berkaitan dengan sikap ummat Islam setelah aksi bela Islam II. Presiden Joko Widodo menyampaikan kepada para ulama tentang alasan mengapa dirinya tidak menemui para demonstran saat aksi bela Islam II. Presiden Joko Widodo mengaku dirinya harus menjalankan tugas meninjau proyek kereta Bandara.

Sementara, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Kabupaten Tangerang, Sis Makhsis Sakhabi menilai pertemuan Presiden Joko Widodo dengan para ulama nusantara ini adalah pertanda bahwa suasana batin ummat Islam sudah mulai dingin kembali setelah sempat memanas disebabkan dugaan tindakan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama, Calon Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

“Alhamdulillah, Presiden Jokowi akhirnya bertemu dengan para ulama, para kiyai mereka membicarakan kondisi bangsa. Ini sesungguhnya akan berdampak positif bagi ummat Islam, sinyalnya baik, paling tidak ada komunikas antara Presiden dengan ummat Islam,” kata Sis Makhsis.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa sampai saat ini ummat Islam masih menunggu hasil proses hukum yang sedang dijalankan oleh kepolisian dalam mengusut dugaan penistaan agama Basuki. Sis berharap pihak kepolisian bisa membuktikan kepada ummat Islam dan masyarakat Indonesia secara umum bahwa proses hukum dijalankan dengan seadil-adilnya. “Kapolri berjanji menyelesaikan penyelidikan kasus ini dalam waktu dua Minggu, kita berharap dijalankan dengan seadil-adilnya,”tegas Sis Makhsis.

Selasa, 08 November 2016

AMIN RAIS: BUNG JOKOWI, JANGAN TERLAMBAT!


Demo ummat Islam yang dipimpin para ulama, zuama, dan habaib Jakarta plus tokoh-tokoh berbagai kalangan (LSM, musisi, politisi, dll) 4 November lalu berlangsung damai. Memang ada kericuhan sekitar pukul 20.00 WIB, tetapi secara keseluruhan aksi itu berakhir damai. Alhamdulillah.

Saya berada di tengah massa pengunjuk rasa yang jumlahnya mungkin tiga kali lebih besar dari demo politik 20 Mei 1998 di halaman gedung DPR/MPR yang dijuluki sebagai people powerIndonesia. Saya terharu melihat kehati-hatian para pemuda yang berdemo itu. Terlalu sering saya mendengar seruan para satgas: “Awas, jangan menginjak-injak rumput”, “Hei, hei, jangan menginjak tanaman”, juga seruan “Hati-hati, hati-hati, provokasi.”

Karena itu, di pengujung demo ketika terjadi pembakaran tiga mobil polisi, saya yakin, kejadian itu mustahil dilakukan demonstran. Mereka tulus dan tampak gembira sambil saling mengingatkan bahaya provokasi dari luar. Di samping pekikan takbir, lagu-lagu perjuangan juga terus diperdengarkan.

Soal cinta mereka pada sang saka merah putih juga sangat mengesankan. Seorang Satgas bercerita pada saya, dia dan teman-temannya kecewa berat ketika pada 3 November sore mencari bendera merah putih ke Pasar Senen, ternyata sudah ludes. Bendera merah-putih dengan berbagai ukuran sudah diborong habis peserta demo.

Kita juga melihat bendera merah putih ukuran raksasa dibentangkan di atas kepala ribuan pendemo yang berkerumun di Bundaran Bank Indonesia. Allahu Akbar. Kesetiaan pada agama dan cinta Tanah Air dari lautan manusia itu membuat banyak mata berkaca-kaca. Bahkan, banyak ibu-ibu yang mengusap air mata yang mengalir di pipi mereka.

Bung Jokowi, rasanya demo 4 November lalu adalah terbesar yang pernah terjadi di persada Indonesia. Sekali-kali jangan Anda remehkan. Dari Maluku sampai Aceh, dari Medan sampai Malang, dari Solo sampai Makassar, dari semua kota besar dan mungkin semua kabupaten, masyarakat bergerak ikhlas dan spontan menuntut hal yang sama: Adili Ahok, penista Alquran dan penghina ulama, secepat mungkin.

Tidak mungkin ada seorang tokoh dengan karisma sehebat apa pun, tidak ada koodinator lapangan (korlap) dengan biaya sebanyak apa pun, dan tidak ada kekuasaan yang berasal dari mana pun dapat menggerakkan jutaan anak bangsa dengan tuntutan yang sama.

*Ditulis langsung oleh Amin Rais.

ISLAM BERPERAN PENTING SEPANJANG SEJARAH


ICMINEWS-Jakarta-Cendekiawan Muslim dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menuturkan, Islam memainkan peranan penting dalam perjalanan sejarah, sosial budaya, intelektual, politik, dan ekonomi antardaerah nusantara dan Asia Tenggara. "Islam memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah," kata dia dalam Konferensi Sejarah Nasional (KSN) X Tahun 2016 di Jakarta, Selasa (8/11).


Azyumardi menuturkan, ahli Islam Asia Tenggara, Judith Nagata mengungkapkan pentingnya posisi dan peran Islam dalam dinamika antardaerah, "Hal ini hampir mustahil untuk memikirkan Melayu tanpa mengacu pada Islam (1986)."
Pun demikian dengan Ernest Gellner yang menyatakan, "Islam telah menjadi cara hidup dan merupakan high culture oleh masyarakat Muslim pribumi, termasuk di Dunia Melayu-Nusantara ini (1983)."
Azyumardi menegaskan, kendati nusantara terdiri dari belasan ribu pulau dan semenanjung, tetapi Islam menyatukan semuanya. "Ranah peradaban Islam Nusantara, adalah salah satu dari delapan ranah peradaban Islam," ujar dia.
Menurut Azyumardi, kesatuan ranah peradaban Islam Nusantara, terlihat dari distingsi pemikiran, pemahaman dan praksis Islam yang terbentuk dalam perjalanan sejarah panjang. Hal tersbut menyebabkan, dinamika di satu daerah dengan cepat dapat berkembang dan mempengaruhi dinamika di daerah lain.
"Integrasi ranah peradaban Islam Nusantara dimungkinkan, terutama karena kenyataan bahwa ranah ini adalah sebuah'benua maritim'," tutur Azyumardi.
Menurutnya, kenyataan sebagai 'benua maritim' membuat ranah tersebut menjadi sangat cair dan mengalir. Sehingga, mendekatkan dan mengintegrasikan beragam tradisi Islam lokal daerah menjadi 'Islam Nusantara' yang distingtif.
Azyumardi menjabarkan, distingsi Islam Nusantara bertumpu pada tiga aspek, yakni, kalam (teologi) Asy'ariyah-Jabariyah, fikih mazhab Syafi'i, dan tasawuf Ghazalian. "Dalam tiga kerangka ortodoksi ini, setiap daerah dengan suku bangsanya juga mengembangkan tradisi sosial-budaya yang khas, yang pada gilirannya memperkaya tradisi Islam Nusantara," katanya. 

Kamis, 12 Mei 2016

MERAWAT ISLAM DAN DEMOKRASI

Oleh: Maksis Sakhabi

Momentum menyambut bulan Ramadhan bisa dikatakan relevan dengan segala usaha manusia dalam mengevaluasi diri atas cerminan sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifah fil ardh). Tugas-tugas manusia sebagai wakil Tuhan yaitu bagaimana mereka dapat memakmurkan bumi dan memberikan kesejahteraan bagi sesamanya. Proses ini kemudian terbentuk dalam dinamika kehidupan. Islam menempatkan manusia sebagai makhluk berakal yang bisa menjadikan kehidupan dinamis dan terus menerus berganti dari satu generasi ke generasi lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya dan dari satu kebiasaan menuju kebiasaan lainnya.

Mengutip apa yang disampaikan Ibnu Chaldun dalam karyanya yang masyhur yakni Muqaddimah, bahwa arus kehidupan manusia ditentukan kepada implementasi musyawarah. Tatanan kehidupan masyarakat dikuasai oleh konsensus sebagian besar masyarakat, seperti halnya negara demokrasi menelurkan kepala negara, kepala daerah dan terus ke bawah. Semuanya lahir dari sistem demokrasi yang didalamnya menempatkan musyawarah sebagai majelis tinggi dalam mencari kemufakatan (QS.Asyuura:38). Oleh karena itu, prinsip demokrasi akan sejalan dengan cara-cara Islam mengatur kekuasaan (negara).

Islam dan demokrasi adalah dua terminologi yang memiliki perpaduan partikular pada aspek sosial-masyarakat, politik dan hukum, ekonomi dan budaya dan lain-lainnya. Kita dapat membandingkan hakikat keduanya pada posisi terpisah. Bagaimaa tidak ketika Islam mengatur kehidupan masyarakat negara dengan asas-asas kemanusiaan (humanisme). Seperti memposisikan kedudukan wanita dengan laki-laki sejajar dalam kehidupan sosial, anjuran bekerja keras dalam menopang laju perekonomian, serta mendorong berbuat adil dalam sistem politik dan hukum. Persis seperti yang tertulis dalam QS. An-Nisaa ayat 135 yang mengatakan “Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan”.

Kemudian, demokrasi berpendirian pada bentuk kedaulatan rakyat. Artinya, tidak ada yang menghalangi kehendak rakyat dalam menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara menurut caranya. Disini, tidak akan dibahas panjang lebar model dan bentuk demokrasi yang terdapat sekarang ini. secara umum, demokrasi menghendaki adanya keputusan rakyat yang dihasilkan melalui kemufakatan rakyat. Dalam hal ini, Inu K. Syafe’i mengartikannya sebagai usaha untuk menghormati hak-hak individu, karena di negara-negara liberal maupun komunis disaksikan keruntuhan ketiranian, kemudian dibentuklah pemerintahan rakyat dengan berbagai pola dan model yang berkembang pada masing-masing sistem politik pemerintahan. Sehingga yang terjadi saat ini, demokrasi dijadikan pilihan bangsa-bangsa dalam menata kehidupan negara.

kembali pada dua terminologi di atas, Islam dan Demokrasi merupakan estetika dalam falsafah politik yang membetuk kedaulatan rakyat sebagai kekuasaan, juga sebagai manifestasi masyarakat negara dalam memakmurkan kehidupan dan memberikan kesejahteraan bagi sesamanya. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengukur efektivitas demokratisasi dari satu teori saja. Ada titik-titik khusus yang membentuk bangsa itu mulia dan luhur melewati proses demokrasi tersebut dan tidak lain diwakili oleh moralitas dan akhlak para elite penguasa. Sebagaimana sejalan dengan firman Allah: “dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung,(QS.Ali-Imron:104)”. Disini kita dapat menegaskan, bahwa Islam dan Demokrasi adalah keberhasilan membagun masyarakat, menata pemerintahan, menetralisir sistem politik, menjaga keutuhan demokrasi. Dan tentu saja semua itu tidak hanya berlaku bagi satu golongan atau kelompok saja melainkan bagi semua manusia di bumi (rahmatan lil alamin).

Realitas Politik
Perspektif Islam memandang demokrasi sebagai nilai sekaligus prinsip mulia bertujuan untuk memberikan kesejahteraan sesama. Kemudian, kita akan menghubungkan dengan realitas politik dan praktik demokrasi yang ada. Tidak sedikit masyarakat beranggapan bahwa politik itu tidak lebih dari praktik menghalalkan segala cara demi tercapainya syahwat kekuasaan atau tepatnya kepentingan, dan me-nomor dua-kan halal-haram. Anggapan tersebut tidaklah salah tetapi tidak boleh menghentikan ijtihad kita lantaran anggapan tersebut. Ada ruang gerak bagi setiap manusia dalam memperoleh segala keinginan dan kebutuhannya. Sebagai contoh ketika kita merasa lapar di saat sedang dihadapkan pekerjaan yang belum selesai, maka dengan cara apapun kita akan membela keinginan kita untuk menghilangkan rasa lapar tersebut. Ada dua kemungkinan, terus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu atau menundanya. Tetapi yang jelas keinginan tersebut akan menjadi prioritas berikutnya.

Begitu pula dengan dinamika kehidupan bernegara. Kita pasti tahu bahwa demokrasi berkehendak melahirkan pemimpin. Bisa jadi berbentuk kepala negara/presiden, gubernur, bupati/walikota dan seterusnya. Posisi strategis tersebut begitu banyak diminati orang tetapi tidaklah semuanya menduduki posisi yang sama secara bersamaan. Sehingga kondisi psikologis yang muncul adalah hasrat kuat untuk mewujudkan keinginan tadi. Maka disini ada peranan lain yang menyebabkan nilai luhur itu ada atau tiada dalam demokrasi tersebut. Klaim masyarakat terhadap realitas politik yang cenderung menghalalkan segala cara muncul dari sisi negatif, yang tidak dipengaruhi dengan pengabdian kepada rakyat melainkan semangat gelora untuk berkuasa semata. Islam pun menjawab kondisi seperti ini. Ditegaskan dalam QS Al-Qashash:26 bahwa “sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya”. Artinya, Islam selalu mengedepankan aspek moralitas dalam demokrasi sehingga pencapaian pemerintahan rakyat dapat terwujud, bukan pemerintahan golongan.

Persoalan tersebut diatas diakibatkan adanya kesalahan persepsi bahwa demokrasi dianggap alat untuk kebebasan. Dengan kata lain, aktivitas kita bebas dan dibenarkan menurut cara kita masing-masing. Tentu saja tidak demikian adanya, proses demokrasi memiliki regulasi. Tidak bisa dilakukan menurut cara masing-masing individu/kelompok. Bagi mereka yang berpandangan bebas sebebas-bebasnya tidak menempatkan aspek moralitas sebagai penentu kualitas demokrasi itu terjadi dan hanya fokus pada satu keinginan berkuasa. Menanggapi hal ini, filosof sekaligus sosiolog Jerman, Jurgen Habermas turut menyerukan bahwa demokrasi yang dianggap bebas tanpa batas tidak memberika dampak positif pada masyarakat negara tetapi sebaliknya, akan melahirkan watak negatif dan ketidakpastian dalam hidup.

Habermas berpandangan bahwa perlu adanya deliberalisasi demokrasi yang dapat mencegah praktik politik kotor yang menciderai demokrasi itu sendiri. Mengatasamakan rakyat yang sudah terkondisikan dengan situasi sama bentuknya dengan pembodohan publik, melakukan penggiringan opini tidak berdasarkan fakta sama halnya dengan fitnah siyasah. Oleh karenanya, melalui teorinya demokrasi deliberatif, habermas menegaskan tidak akan terwujud kehidupan sosial adil dan merata manakala proses demokrasi diciderai dengan praktik politik kotor. Nah, disinilah ternyata tidak hanya Islam yang peduli terhadap pengawalan proses demokrasi tetapi ilmuan Barat pun megedepankan etika politik dalam proses demokrasi.


Dengan kata lain, Islam dan Demokrasi ini sejalan beriringan mendukung tatanan kehidupan manusia yang adil dan beradab, terciptanya kesejahteraan sosial yag merata dan menempatkan moral sebagai pengendali/kontrol bagi unsur-unsur demokrasi dan turunannya. Selamat berdemokrasi.

MELIHAT KEAGUNGAN ALLAH

Oleh: Maksis Sakhabi

Beribu-ribu bintang terlihat cemerlang ketika malam hari tiba, aroma ciptaan Allah semakin nampak terang benderang tatkala bintang terang benderang. Allah swt. sungguh telah menciptakan berbagai bentuk rupa di alam raya ini sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Tak satupun ditemukan dari ciptaan Allah yang tidak memiliki manfaat. Semua tercipta sesuai dengan kadarnya. Bahkan manusia pun adalah makhluk yang dimuliakan dan mendapat posisi nomor satu di bumi. Allah swt. secara sengaja menjadikan manusia sebagai makhluk sempurna (insan kamil) yang tentunya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Manusia diberikan amanat oleh Allah swt. untuk menjaga keutuhan kehidupan di bumi. Manusia mempunyai kelebihan daibanding makhluk-makhluk lainnya. Akal sebagai salah satu bentuk perbedaan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia diberikan akal untuk berpikir bagaimana dapat menjalankan amanat dari Allah, yakni menjaga keutuhan kehidupan di bumi.

Ya, kalau kita teliti lebih jauh, banyak sekali tipe-tipe manusia yang terdapat di bumi ini. tidak semua manusia dapat menjaga amanat Allah swt. ini. tetapi tidak sedikit manusia yang berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Karena ini merupakan perintah Allah swt. yang telah tercantum di dalam Al-Quran.  Manusia melihat keindahan ciptaan Allah swt. dengan menggunakan akalnya. Tanpa akal mustahil manusia dapat merenungkan ciptaan Allah swt. indahnya sawah, luasnya lautan, tingginya gunung-gunung dapat didefinisikan oleh manusia dengan menggunakan akalnya.
Catatan-catatan mufassir tentang ciptaan Allah telah banyak memberikan keterangan bahwa Allah swt. adalah Maha Pencipta segala sesuatu. Tak ada satu pun yang lepas dari ciptaan-Nya di dunia ini. Maha Suci Allah yang telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan di bumi ini. tentu kita tahu bahwa makhluk-makhluk-Nya di dunia ini terdiri dari berbagai macam jenis dan kelompoknya. Banyak sekali makhluk ciptaan Allah yang belum kita ketahui, pernahkah kita berpikir ada apa di balik planet-planet lain selain bumi ? Wallahu A’lam. Tidak semua manusia mampu menerjang pengetahuan yang amat dalam tersebut. Jikalau pun ada manusia yang berusaha payah melakukan penelitian di balik planet-planet lain, sungguh itu masih sebagian pengetahuan kecil saja yang Allah berikan.
           
Yang terpenting dari renungan ini adalah kita sebagai makhluk ciptaan Allah swt. hendaknya mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya. Beriman, beramal shaleh, berbuat sesuatu yang dikehendaki-Nya. Mengimani Allah swt. tidak hanya tercetus lewat ucapan lisan saja. Pokok iman itu bersumber dari ma’rifat dalam hati (Imam Fakhruddin Ar-Razi : 606 H). Seseorang tidak cukup mengucapkan “saya beriman” hanya lewat lisan, tetapi juga harus disertai dengan pengamalan Tauhidnya.

Imam Fakhrudin Ar-Razi, salah seorang ulama yang berprinsip pada Madzhab Asy’ariyyah berpendapat bahwa ber-Tauhid hendaknya dengan melakukan riyadhoh agar kita dapat menafikan segala sesuatu yang ada di dalam hati kecuali Allah. Jika seseorang telah sampai pada tingkatan tersebut maka sudah dianggap ber-Tauhid. Jadi berhati-hatilah terhadap perbuatan kita, lisan kita yang kerap salah ucap, atau bahkan hati kita yang terkadang menempatkan sesuatu selain Allah swt.

Dengan beriman kepada-Nya mudah-mudahan apa yang kita maksud dan kita kehendaki mendapat keridhoan dari Allah swt. selalu diberikan petunjuk yang lurus dan dijauhkan dari yang syirik dan munafik. Allah Maha Agung, Pencipta segala makhluk, tidak ada Tuhan selain Allah.


“Lisanmu bagaikan kakimu yang selalu berjalan tanpa melihat rintangan,
Maka gunakan hatimu untuk menjaga lisanmu yang siap menghadapi rintangan”

(Makhsis Sakhabi, DJ)

Kamis, 05 Mei 2016

HIKMAH ISRA MI'RAJ DARI PROF. QURAISH SHIHAB

Perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.

Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.

Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya." Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.

Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.

Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat.

Dalam bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.

Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya.204Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai'i.205 Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra' adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.

Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor "ratu". Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa "malu" yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.

Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia mukmin, menurut Rasul, adalah "bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu."
Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.

Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan "telah datang ketetapan Allah," mengapa dinyatakan-Nya juga "jangan meminta agar disegerakan datangnya"? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya "kun" (jadilah), maka jadilah ia (QS 16:40).

Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa.

Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.

Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.

Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).

Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).

Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."

Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.
Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra' dan Mi'raj.

Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra' dan Mi 'raj terjadi, tetapi mengapa Isra' dan Mi 'raj.

Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra'-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra'), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.

Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.

Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.

Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut." Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.

Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra' dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).

Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).
Ditekankan dalam surat ini bahwa "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan" (QS 17:27).

Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).

Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra' ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).

Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan "jalan tengah" itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah:
Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).
Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).

Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra' sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.

Rabu, 04 Mei 2016

MEMBANGUN PERADABAN DUNIA DENGAN MEMBACA

Sejarah manusia secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu masa pra-sejarah dan masa sejarah. Masa pra-sejarah adalah masa dimana manusia belum mengenal baca tulis, sedangkan masa sejarah ditandai dengan penemuan dan kemampuan baca tulis manusia sekitar lima ribu tahun lalu. Penemuan baca tulis telah membuat kehidupan manusia berubah drastis. Peradaban manusia tidak lagi berjalan merangak, melainkan berlari melesat kencang. Tidak kurang dari 27 peradaban telah dilahirkan, dari peradaban sumeria masa lalu hingga peradaban Amerika masa kini. Peradaban yang datang mempelajari peradaban masa lalu dari apa yang ditulis dan dibaca oleh generasi berikutnya. Manusia saat ini tidak lagi memulainya dari titik nol.
Kejayaan peradaban Romawi, peradaban Islam, dan peradaban Eropa saat ini dibangun dari tradisi membaca dan menulis. beribu-ribu karya intelektual serta penemuan-penemuan orisinil yang muncul pada setiap jamannya. Intelektualitas memang tidak dibangun hanya oleh kemampuan baca-tulis saja, juga oleh berbagai eksperimen lain sehingga melahirkan teori-teori. namun dasar dari seluruh kemampuan tersebut ada pada kemampuan baca-tulis yang dirangkai dengan akal dan budi, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Demikianlah yang tercantum dalam Al-Quran, kitab suci dan pedoman bagi ummat Islam. Akal tanpa qalbu menjadikan manusia seperti syaithan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi. Sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri. Dan Al-Quran sebagai kitab yang terpadu memperlakukan manusia dengan memperlihatkan keseluruhan unsur manusiawinya berupa jiwa, akal dan jasmaninya.

Membaca, Perintah Tuhan Yang Pertama
Iqra' yang merupakan kata pertama dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu pada QS. Al-"alaq berarti "bacalah". Jibril bahkan harus mengulangi tiga kali perintah membaca ini, karena setiap kali disampaikan "Iqra" selalu dijawab oleh Muhammad dengan "Maa Anaa Bi Qari", saya tidak bisa membaca. Sesudahnya baru Jibril melanjutkan ayat pertama secara lengkap dan juga empat ayat berikutnya. "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Ini merupakan perintah membaca yang mengharuskan pembaca ikhlas melakukannya, karena hanya Allah semata. Sebab yang memerintah Allah, Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan, meningkatkan dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.
Pada ayat ketiga berbunyi "Bacalah, dan Tuhanmu lah yang Maha Pemurah". Ayat ini menggambarkan manfaat yang akan diperoleh pembaca dari apa yang dibacanya. Allah menjanjikan pada saat seseorang membaca dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman-pemahaman, wawasan-wawasan baru, walaupun yang dibaca itu-itu juga.
Demikianlah, Iqra' merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Dan, disinilah letaknya mengapa membaca memiliki makna yang mendalam dan strategis dalam ilmu pengetahuan. Karena seseorang tidak akan memperoleh pengetahuan tanpa membaca. Dan membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya. Sehingga manusia memiliki peradaban yang tinggi. Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.
Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada ummat manusia. membaca dalam berbagai macam maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justeru dimulai dari suatu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan buku Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum masehi. Ia berakhir dengan hadirnya kitab perjanjian baru. Peradaban Islam lahir seiring dengan kehadiran Al-Quran.
Singapura, negara tetangganya yang luasnya sepersekian dari wilayah Indonesia, sangat bergantung pada kecerdasan manusianya. Indonesia sebagai negara yang besar baru bergantung pada sumber daya alamnya dan kuantitas konsumsi rakyat. Kita belum menjadikan manusia sebagai faktor penting kebangkitan bangsa dan negara ini dalam menciptakan dan membangun peradaban Indonesia. Itu karena Indonesia belum menempatkan membaca sebagai intisari perjuangan kebangsaan dan intisari pembangunan nasional dalam peranannya membangun peradaban nasional dan dunia.
Saatnya kita semua menyadari bahwa membaca itu tidak penting bagi kita yang ingin mengekalkan diri pada kejahiliyahan. Tetapi membaca itu sangat penting bagi manusia yang mengimani "minadzulumati ilaannur" yaitu perubahan dari jaman kegelapan menuju era yang terang benderang.
Wallahu a'lam bishshawab.

Topari, S. Sos., MH
Sekretaris Dewan Pakar ICMI Kab. Tangerang